hhhhh
Sabtu, 04 Februari 2012
Kamis, 02 Februari 2012
imunologi elisa
Tugas Imunologi
ELISA(Enzyme-Linked Immunosorbent Assay)
Diskripsi teori
ELISA
(singkatan bahasa Inggris:
Enzyme-linked immunosorbent assay)
atau 'penetapan kadar imunosorben taut-enzim' merupakan uji serologis
yang umum digunakan di berbagai laboratorium imunologi. Uji ini memiliki beberapa
keunggulan seperti teknik pengerjaan yang relatif sederhana, ekonomis, dan
memiliki sensitivitas yang cukup tinggi. ELISA diperkenalkan pada tahun 1971
oleh Peter Perlmann dan Eva Engvall untuk menganalisis adanya interaksi antigen dengan antibodi di dalam suatu sampel dengan
menggunakan enzim sebagai pelapor (reporter label).[1]
Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA) adalah
suatu teknik biokimia yang terutama digunakan dalam bidang imunologi untuk
mendeteksi kehadiran antibodi atau antigen dalam suatu sampel. ELISA telah
digunakan sebagai alat diagnostik dalam bidang medis, patologi tumbuhan, dan
juga berbagai bidang industri. Dalam pengertian sederhana, sejumlah antigen
yang tidak dikenal ditempelkan pada suatu permukaan, kemudian antibodi spesifik
dicucikan pada permukaan tersebut, sehingga akan berikatan dengan antigennya.
Antibodi ini terikat dengan suatu enzim, dan pada tahap terakhir, ditambahkan
substansi yang dapat diubah oleh enzim menjadi sinyal yang dapat dideteksi.
Dalam ELISA fluoresensi, saat cahaya dengan panjang gelombang tertentu
disinarkan pada suatu sampel, kompleks antigen/antibodi akan berfluoresensi
sehingga jumlah antigen pada sampel dapat disimpulkan berdasarkan besarnya
fluoresensi.
Penggunaan ELISA melibatkan setidaknya satu antibodi dengan
spesifitas untuk antigen tertentu. Sampel dengan jumlah antigen yang tidak
diketahui diimobilisasi pada suatu permukaan solid (biasanya berupa lempeng
mikrotiter polistirene), baik yang non-spesifik (melalui penyerapan pada
permukaan) atau spesifik (melalui penangkapan oleh antibodi lain yang
spesifik untuk antigen yang sama, disebut ‘sandwich’ ELISA). Setelah
antigen diimobilisasi, antibodi pendeteksi ditambahkan, membentuk kompleks
dengan antigen. Antibodi pendeteksi dapat berikatan juga dengan enzim, atau
dapat dideteksi secara langsung oleh antibodi sekunder yang berikatan
dengan enzim melalui biokonjugasi. Di antara tiap tahap, plate harus
dicuci dengan larutan deterjen lembut untuk membuang kelebihan protein atau
antibodi yang tidak terikat. Setelah tahap pencucian terakhir, dalam plate ditambahkan
substrat enzimatik untuk memproduksi sinyal yang visibel, yang
menunjukkan kuantitas antigen dalam sampel. Teknik ELISA yang lama
menggunakan substrat kromogenik, meskipun metode-metode terbaru mengembangkan
substrat fluorogenik yang jauh lebih sensitif.
Teknik ELISA
-
Untuk
menentukan kadar Ag atau Ab.
-
Indikator
berupa enzim dilenketkan
-
pada
Ag atau Ab.
-
Ada
beberapa metode.
Prinsip
Metode Elisa
Bila kita mau
menditeksi antigen(Ag):
dihidrolisis
oleh enzim → intensitas warna yang terjadi→diukur dengan fotometer/
spektrofotometer → kadar antigen.
§
kadar
reaktan
§
temperatur
§
masa
inkubasi yang telah ditentukan
secara
eksperimental → setiap reagen dari pabrik ber beda → prosedur berbeda.
§
kadar
reaktan
§
temperatur
§
masa
inkubasi
setiap
reagen dari fabrik berbeda → prosedur berbeda.

Metode Elisa
v
Metode
kompotitif
Þ
Umumnya
untuk menentukan Ag.
Þ
Ab
spesifik [dilekatkan pada partikel/sumur ] dicampur bersama sama Ag *
Þ
tambahkan
serum [Ag] yang akan bersaing dengan Ag*untuk mengikatAb diatas → kompleks
Ag*-Ab-Ag

v
Non
kompotitif[ menentukan Ab atau Ag
v
Indirek/sandwich
menentukan Ab dan Ag
·
Ag-Ab-AntiAb*
antibodi yang dicari
·
Abs –Ag
–Ab*Ag yang dicari

Langganan:
Postingan (Atom)









